ANDINI ROHMAH - SABILAL RASYAD :PENGOBATAN ALTERNATIF MEDIS & NON MEDIS
>>> MEDIS : DIABETES, JANTUNG, ASAM URAT, REMATIK, VERTIGO, LIVER, PROSTAT, STROKE, DLL
>>> NON MEDIS: KENA SANTET, GUNA2, KESURUPAN / GANGGUAN GHOIB
==> MELEPAS SUSUK
==> MEMBUKA AURA & REJEKI
==> MEMUTUS PERJANJIAN GHAIB
==> PENGOBATAN MEDIS & NON MEDIS

==> MELEPAS PEGANGAN GHAIB
==> PENGOBATAN ALTERNATIF TUSUK 12 JARI
==> NAIK JABATAN


HP: 081298819963, 087887615083, 021–70871857
PIN : 74D75E50
WhatsApp : 087887615083
Email : andini_rohmah@yahoo.com

SPESIALIS: MEMBUKA AURA KECANTIKAN JUGA MEMBERSIHKAN MUKA DARI JERAWAT BATU,BISUL,FLEK2 HITAM DI MUKA, MEMBUKA REJEKI & JODOH

Minggu, 19 April 2009

ANDINI LAHIR KE DUNIA DARI ALAM GAIB ISTANA KERAJAAN NAGA SELATAN DAN TUMBUH SEBAGAI MANUSIA BIASA



Takdir Lahir Ke Dunia Manusia


Pada zaman dahulu kala ratusan tahun yang lalu bahkan ribuan tahun yang lalu, ada sebuah istana kerajaan bangsa jin yang dimana menjadi pusatnya puser bumi dan dimana para dewa-dewi bersemayam dari seluruh dunia. Tetapi di salah satu kerajaan bangsa jin adalah kerajaan Dewi Naga Selatan yang mengusai laut selatan seluruh dunia dimana mempunyai 3 anak yaitu Dewi Roro Blorong, Dewi Roro Panas, dan Dewi Roro Ningrum.


Salah satu anak dari Dewi Roro Panas yang nantinya akan dikeluarkan ke dunia oleh Dewi Naga Selatan yang bernama Andini Kencana Rara Sati. Semasa kecilnya dia adalah anak yang lucu, periang dan sering bercanda terkadang dia membantu saudaranya dalam masalah apa saja. Dia adalah cucu yang paling disayang oleh neneknya Dewi Naga Selatan, karena suka menolong, suka membantu sesama teman.



Gambar : Andini Rohmah (Kiri) Dan Andini Dalam Wujud Naga Hijau (Kanan)


Walaupun Andini anak dari keluarga istana Naga Selatan dengan kehidupan dengan gemerlap, namun ia tidak pernah sombong sehingga dia disenangi oleh rakyatnya. Ketika Andini berusia kurang lebih 500 tahun di alam gaib Kerajaan Naga Selatan, jika di dunia usianya baru 4 tahun.


Putri Andini tidak pernah kekurangan apapun, sehingga segala kebutuhannya terpenuhi. Di dalam istana, Andini disediakan berbagai mainan dan makanan yang lezat. Seperti layaknya anak kecil pun Andini senang bermain. Namun demikian Andini sudah mulai diajarkan oleh neneknya Dewi Naga Selatan untuk mempelajari sedikit ilmu sihir dan mantra untuk jaga diri.


Dan pada suatu ketika nenek Dewi Naga Selatan selalu mengatakan kepada Andini bahwa jika dewasa nanti ia akan dibawa nenek untuk berpetualang ke dunia luar. Putri Andini kecil bertanya, “Nenek mau mengajak Andini naik kereta kencana ke luar istana ya. Andini mau diajak nenek jalan-jalan karena bosen main di keputren bersama bibi emban.” Dengan lugunya putri Andini seperti itu membuat nenek Dewi Naga selatan hanya tersenyum dan memeluk cucunya tersayang itu.


Ketika waktunya tiba pada saat usia Andini 1750 tahun atau jika umur manusia di dunia 5 tahun, berdasarkan perjanjian dengan salah satu Walisongo yaitu Sunan Gunung Jati, bahwa Dewi Naga Selatan sebagai syarat takluknya dalam pertempuran kedua tokoh sakti itu maka salah satu putri istana harus dikeluarkan ke dunia. Ini Pertempuran sengit itu pun terjadi pada Abad XIV dalam usaha memperebutkan kekuasaan wilayah di Tanah Jawa. Pihak Sunan Gunung Jati berusaha menaklukan penguasa gaib Tanah Jawa agar risalah penyebaran islam bagi penduduk yang saat itu masih menganut kepercayaan lama dapat berhasil, sedangkan Dewi Naga Selatan ingin tetap mempertahankan pengaruhnya kepada penduduk pada kepercayaan lama.


Pada pertempuran kedua tokoh sakti itu, Sunan Gunung Jati memenangkan pertarungan yang berarti golongan manusia mampu mengalahkan bagsa Jin yakni pihak Dewi Naga Selatan. Perjanjian itu akhirnya dipenuhi dan pilihannya jatuh kepada putri Andini akan dikeluarkan ke dunia pada zaman Indonesia moderen. Akan tetapi sebelum itu nenek Dewi Naga Selatan bicara kepada ibunya Dewi Roro Panas. Dewi Roro Panas ibundanya Andini keberatan jika anaknya dikeluarkan didunia. Ibunya takut kalau ada apa-apa dengan anaknya di dunia bagaimana kehidupannya nanti dan segala macam kesulitan menghadang dalam kehidupan dunianya manusia.


Oleh karena Dewi Naga selatan telah berjanji pada Sunan Gunung Jati pada abad XIV, maka Dewi Naga Selatan harus menepatinya walaupun anaknya Dewi Roro Panas merasa keberatan. Maka dari itu dengan diam-diam nenek Dewi Naga Selatan berkeputusan untuk mengeluarkan Andini ke dunia. Tempat yang pantas dipilihnya adalah salah satu wilayah Kota Jakarta yang saat itu (pada pertengahan tahun 1965) sedang mengalami pergolakan politik pergantian pemimpin Indonesia dan membawa pengaruh gaib sampai Istana Naga selatan harus ikut terlibat.


Daerah itu adalah Slipi Jakarta Barat. Telur emas (yang berisikan janin Andini) yang terbungkus dalam selendang sang Dewi Naga Selatan itu dititipkan ke rahim seorang ibu muda yang baru menikah yang bernama Suharti, dan suaminya bernama Bapak Sutjipto. Walaupun dititipkan di Ibu jasad di dunia Andini dibuat tidak ingat apa-apa yang terjadi pada masa kecilnya di keraton (istana naga selatan).


Andini lahir ke dunia oleh ibu di dunianya pada usia kandungan 8 bulan dengan berat 1,8 kg dan panjang 58 cm, karena ukuran bayi terlalu kecil dan jantungnya lemah maka dimasukkan kedalam incubator selama 2 bulan. Andini lahir dengan seluruh badannya seperti bersisik ular karena kulit arinya mengelupas. Ibu yang di dunia kaget dan sempat tidak bisa menerima tetapi nenek Kartinah (ibunya Suharti) memberikan dukungan untuk kesabaran menerima kelahiran putrinya apa adanya. Nenek inilah merawat dia dari bayi sampai besar.


Ketika Andini baru saja berusia 1 tahun ia selalu gelisah, karena seperti melihat sesuatu yang ada di depan matanya. Andini hanya menunjuk dan bilang itu ada orang. Tetapi Andini tidak bisa jalan. Andini hanya bisa ngesot seperti ular. Setelah usia 2 tahun Andini barulah bisa jalan tetapi mulanya langsung lari. Nenek yang merawatnya senang dia bisa berjalan. Tetapi yang membuatnya nenek menjadi sedih kalau Andini makan cukup lama. Andini sampai umur 9 tahun masih disuapi. Sekali makan bisa 2 jam karena makannya selalu diemut dan kalau makan harus dengan bermain dengan anak-anak di komplek Slipi Blok A, karena kalau tidak Andini tidak mau makan.


Ketika Andini usia 3 tahun ia sering melihat hal-hal gaib. Sering kali ia menunjuk-nujuk dan memberitahukan kepada neneknya, dan mulai saat itu Andini mengerti kalau segala hal gaib yang dilihatnya tidak perlu berisik agar keluarga di rumah tidak ikut mengetahui kemampuan Andini kecil. Pada umur ini Andini sudah mulai bermimpi melihat lihat binatang peri kecil berwarna-warni yang mengelilinginya dan mengajak Andini bermain ke suatu tempat. Andini juga diajak kesuatu tempat yang indah sekali. Karena saat itu masih terlalu kecil sehingga tidak bisa diberikan keterangan secara detail ke tempat mana saja tempat indah yang dikunjunginya.


Ketika umur 4 tahun Andini seperti biasa anak manusia yang bermain seperti yang lainnya. Andini kecil sudah mulai diperbolehkan pergi bermain ke halaman tetangga, namun masih dijaga oleh nenek agar Andini bisa makan untuk disuapi dan pulang sebelum magrib, karena jika mendekati magrib akan menimbulkan daya tangkap penglihatan gaib Andini kecil semakin kuat apa lagi di tempat tetangganya banyak pepohonan besar.


Mulai umur 5 tahun setiap bulan purnama Andini dalam tidur mimpinya dijemput pada tengah malam tepat jam 12 malam. Andini didatangi dayang-dayang cantik dan pengawal-pengawal ganteng diajak bermain-main diatas awan. Menari-nari, bernyanyi dengan senang hati bergembira bersama. Tetapi ketika jam sudah menunjukkan angka 4 atau sudah jam 4 Andini dikembalikan ke rumahnya. Sambil salam berpisah nanti kita bertemu lagi. Setelah itu kejadian malam dalam mimpinya Andini dilarang neneknya untuk menceritakan hal tersebut kepada orang lain karena pada umur 5 tahun Andini harus bergaul dengan teman-teman lain di sekolah TK. Kata neneknya, “malu dong cerita-cerita ketemu peri dalam mimpi. Kan Andini gak mau dibilang tukang mendongeng? Disarankan demikian Andini kecil Cuma tertawa lepas dan nenek pun demikian.


Pada pagi harinya Andini bertingkah seperti tidak ada kejadian apa-apa. Andini kecil ini sekolah TK yang ada di komplek rumahnya. Di sekolah TK ia mulai bermain, belajar membaca dan menulis. Inilah pertama kali Andini kecil mengetahui tulis baca. Para murid TK bermain dengan didampingi guru. Para guru TK senang melihat Andini karena ia periang dan tidak pernah berbuat nakal.


Setahun kemudian ketika usia 6 tahun Andini kecil masuk sekolah SD. Sekolah swasta di Jakarta Barat. Andini kecil mulai kelas 1 SD tidak mau masuk sekolah kalau tidak ditunggui neneknya. Jadi kalau Andini sekolah neneknya harus kelihatan badannya dan pintu kelas selalu dibuka. Setiap hari begini terus. Ketika bersekolah di SD badan Andini agak lemah, karena itu ia tidak bermain bersama teman-temannya. Hal ini berbeda dengan pada saat bersekolah di TK.


Ketika usia 7 tahun pada saat kelas 2 SD, Andini harus mengalami operasi karena dulu ketika masih bayi dokter mengatakan Andini mempunyai penyakit jantung bawaan (dimana salah satu klep jantungnya bocor yang dimana antara darah bersih dan darah kotor bercampur). Hal ini menyebabkan Andini sering sesak napas dan ditemani oleh neneknya meminum obat dari dokter anak.


Oleh karena orang tua Andini khawatir penyakitnya akan membahayakan maka Andini dibawa ke dokter spesialis penyakit dalam (internis). Berdasakan petunjuk dokter internis, maka Andini dirujuk ke rumah sakit St. Carolus Jakarta Pusat untuk mendapatkan tindakan operasi jantung. Untungnya pada saat itu sedang masa liburan sekolah.


Petualangan Andini pada saat di rumah sakit St. Carolus sering melihat dan mengalami hal yang aneh, dan kejadian ini diketahui nenek yang menungguinya di kamar perawatan. Pada suatu tengah malam dan saat itu hujan lebat ketika Andini akan ke kamar mandi ditemani suster perawat datanglah dokter. Tidak biasanya dokter datang mengontrol pada tengah malam. Dokter itu pakai jaket hujan hitam dari kepala hingga kaki. Dokter tersebut masuk ke kamar mandi tetapi ditunggu-tunggu lama sekali tidak keluar padahal Andini sudah tidak tahan lagi ingin pipis. Diketoklah kamar mandi itu tiba-tiba kamar mandi itu terbuka sendiri yang terlihat hanya jaketnya saja. Andini bersama suster ketakutan Andini menangis dan suster berusaha menenangkannya. Jangan takut ya udah nanti suster temani di dalam. Andini cepat-cepat begitu selesai buru-buru Andini keluar.


Nenek yang mengetahui keributan itu menjelaskan kepada suster agar bersabar menemani Andini yang suka didatangi dan melihat kejadian gaib, apalagi kadang-kadang yang menemaninya dapat juga mengalami hal yang sama karena factor keberadaan Andini tersebut. Karena sering melihat dan mengalami kejadian aneh di rumah sakit akhirnya Andini seakan-akan tidak merasa takut lagi. Andini berusaha tidak mengingat-ingat kejadian-kejadian setiap malam agar tidak merasa ngeri karenanya.


Ketika tiba waktunya operasi Andini tiba-tiba bangun sudah berada di ruang yang luas dimana sekelilingnya penuh dengan alat-alat operasi dan banyak tim paramedic dan dokter ahli. Setelah proses operasi selesai Andini tidak sadar kan diri selama 3 jam dan dinyatakan koma selama 5 hari. Pada saat koma itulah Andini tiba-tiba keluar dari badannya, Andini berjalan dilorong-lorong (labyrinth) yang gelap dengan kebingungan dan ketakutan. Tiba-tiba ada cahaya yang datang dan tepat dihadapannya lalu berujud seorang Syaikh (pria bertubuh besar dengan bersorban) mengembalikan ruh Andini yang melayang itu kembali ke badannya lagi. Kejadian itu 2x terulang lagi Andini berada disuatu lorong tapi terlihat jelas ada cahaya diluar. Lagi-lagi Andini dibawa kembali kebadannya, lalu tidak lama kemudian andini sadar.


Selama 2 bulan lamanya Andini di rumah sakit. Kemudian Andini pulang ke rumahnya dijemput oleh keluarga yakni ayah dan ibu serta kedua adik-adinkya yang masih kecil. Nenek selalu menemani Andini di kamar selama di rumah karena khawatir akan terjadi sesuatu yang mengganggu pemulihan kesehatan cucunya itu. Setelah peristiwa operasi bebeerapa waktu yang lalu, pada setiap bulan purnama Andini dijemput lagi seperti 2 tahun sebelumnya. Andini tidak lagi didatangi oleh peri-peri kecil melainkan dayang-dayang cantik dan para pengawal yang tampan tepat jam 12 malam. Mereka datang dengan membawa kereta pedati yang ditarik oleh sapi putih, klenengan di lehernya dengan tanda kerajaan. Andini dibawa masuk kedalam samudra luas dan menuju istana megah nan indah. Para pengawal dan bidadari tersebut mengantarkannya kedalam sebuah bale agung dimana terdapat seorang wanita cantik sedang beristirahat dan ditemani dayang-dayang. Pertama kali melihat Ratu (Dewi) tersebut tersenyum dengan ramah namun tidak berkata sepatah katapun.


Akhirnya Andini pulang kembali ke kamar tidurnya pukul 3 pagi. Setelah itu Andini tidak menceritakan kepada nenek selain hanya memeluknya dengan erat yang menandakan bahwa ia telah mengalami peristiwa dijemput untuk bermain dengan bangsa peri. Pada keesokan harinyan Andini seperti biasa bermain dengan anak-anak pada umumnya agar ia tidak ingin kejadian bersama bangsa peri diketahui teman-teman sebayanya dan khawatir dikatakan dirinya sebagai pendongeng.


Dalam hati Andini berpikir kenapa saya pergi kesuatu tempat yang kalau diingat-ingat ia pernah berada di tempat itu. Tapi kapan pernahnya? Siapa ibu (Dewi) itu? Cantik sekali, anggun berwibawa. Andini terkesan sekali melihatnya. Namun Andini menyadari mungkin itu hanya mimpi kosong yang tidak berarti.


Bertemu Hantu Cilik dan Hantu Casper

Setelah usia menanjak umur 8 tahun Andini sudah kelas 3 SD. Andini sudah dapat bercengkerama dengan murid-murid lain dan bermain dengan riangnya. Pernah suatu kali Andini melihat ada perempuan kecil di kamar mandi sekolah baru saja keluar. Kejadian melihat perempuan kecil itu sangat sering di alaminya ketika akan ke kamar mandi sekolah, sedangkan teman-teman lain tidak mengetahui atau melihatnya. Andini berpikir mungkin perempuan yang suka keluar masuk kamar mandi itu adalah teman dari kelas lain. Kemudian dengan memberanikan diri Andini mencegatnya dan bertanya : siapa kamu? Mukanya pucat pasi seperti tidak ada darah yang mengalir ditubuhnya. Anak itu berkata dulu saya tinggal di daerah ini sebelum jadi sekolahan, saya meninggal karena masuk dalam sumur tua. Usia perempuan itu 9 tahun atau lebih tua setahun dari Andini.


“Oh ya saya Ana Margareth. Tidak ada yang tahu saya disini hanya kamu saja yang tahu. Oh ya nama kamu sendiri siapa?”

“Andini.”

“Apakah kamu dari keluarga kerajaan? Dan mengapa kamu berpakaian seperti Cinderella”, tanya Ana.


Andini melihat tubuhnya tidak berpakaian gaun tetapi baju seragam sekolah putih-putih. Kemudian Andini menjawab, “Saya ini manusia tinggal di slipi bersama orang tua saya. Pasti kamu hantu kecil yang suka menggangu anak murid lain sehingga mereka takut ke kamar kecil ini kan. Walaupun mereka tidak lihat, tapi kamu suka mencolek mereka. Nah sebaiknya mulai saat ini jangan ganggu murid lain selain aku yang kamu ajak bermain ya,” Andini dengan tegas memberikan saran dengan tangan tertelunjuk ke hidung Ana.




Gambar : Ana Margareth gadis hantu kecil di belakang sekolah


“Oh maaf kalau begitu. Ya udah kalau begitu kamu saja ya boleh jadi teman saya.”

Andini pun mengangguk tanda setuju seraya mengajukan perkataannya, “Baiklah kapan-kapan kita ketemu lagi ya, saya mau belajar dulu. Sampai nanti.”


Akhirnya awal pertemuan Andini berteman dengan ana itu berlangsung sampai tamat SD. Pengalaman itu adalah pertama kalinya Andini berteman dan berbicara dengan hantu (ghost). Pengalaman lainnya adalah pertemuannya dengan Siluman Ular ketika usianya masuk umur 9 tahun.


Andini seperti biasa memulai belajar mengaji karena di depan rumah ada mesjid. Andini saat ini menyadari bahwa keluarganya terutama bapak suka pasang sesajen pada setiap malam jumat kliwon. Setelah usianya yang ke 9 tahun Andini tidak suka atas perbuatan ini, dalam hatinya bertanya kenapa setiap malam jumat kliwon bapak selalu pasang sesaji yang isinya 1 gelas air putih, 1 gelas kopi, beberapa batang rokok dan yang satu diletakkan di asbak dan tidak lupa kembang tujuh rupa. Andini kesal sekali dengan ritual yang tidak masuk akal itu.


Suatu waktu pada tengah malam Andini keluar lalu menghambur-hamburkan kembang tujuh rupanya, rokok dipatahin, kopi diaduk-aduk pakai sendok kecil sisa abunya dibuang. Setelah puas melakukan itu buru-buru Andini tidur. Pada malam itu belum terjadi apa-apa, tetapi malam ke-2 dan ke-3 barulah ada reaksi dari siluman ular kobra yang biasa datang ke rumah. Pada saat Andini lagi tidur datanglah ular kobra hitam itu ke dalam mimpinya (tapi seperti tidak mimpi). Ular itu marah-marah.


“Hai anak kecil brengsek kamu! Kenapa makananku kamu acak-acak-acak?”

Tetapi Andini tidak takut. Andini tidak kalah menantang.

“Hei ular brengsek kenapa kamu mau menyesatkan keluarga saya. Andini tidak terima. Hayo kalo berani berantem. Saya tidak takut. Sini!! Maju kalau berani.”


Dengan perasaan maju tak gentar dan membela yang benar. Andini menunggu reaksi dari ular kobra itu. Tiba-tiba ular kobra itu menyerang. Andini mengelak sambil ngeledek (tanpa disadarinya ia telah menggunakan jurus-jurus yang diajarkan neneknya Dewi Naga Selatan untuk mempertahankan diri).

“Ya tidak kena.”

Tiba-tiba ular itu terdiam dan berkata, “Hei kamu naga kecil rupanya.”

“Hei ular brengsek saya bukan naga tetapi saya manusia. Andini tidak takut sama siapapun, Andini hanya takut sama Tuhan Alloh.”

Semakin marahlah ular kobra hitam itu, karena diledek terus.

“Wah marah nih ye, hayo berantem lagi.”


Kemudian dengan membabi buta ular itu menyerang Andini. Akhirnya Andini sempat tertangkap gaun tidrnya pakai buntutnya ular itu. Wah rasakan ini pembalasanku sekonyong-konyong ular akan menyerang dengan cengkraman mulutnya. Pada situasi yang berbaya itu………………


Andini berteriak minta tolong dengan sekuat tenaga. Dan tiba-tiba entah darimana datangnya ular naga emas datang menolong Andini. Dengan lantangnya mengatakan, “Hai ular kobra turunkan anak itu. Kalau kau berani jangan dengan anak itu.”


Kemudian setelah Andini diturunkan, ular kobra itu tiba-tiba tunduk dan sempat mengatakan, “Ampun Dewi Ratu ampun hamba tidak tahu siapa anak itu.”

“Sudah pergi sana jangan datang-datang lagi kemari.”

“Baik Dewi Ratu!”

Setelah ular kobra itu pergi Andini sempat tekagum-kagum dengan Naga Emas itu. Wah naga emasnya bagus sekali dan wah hebat sekali. Andini mengucapkan terima kasih.

Andini bertanya, “apakah saya dapat memanggil nama ular naga emas dengan sebutan apa?”

“Panggil saja Nenek Naga (Nenek Dewi).”

Kemudian naga emas itu bertanya, “Andini kenapa kamu menghancurkan sesajen itu”.

“Ya karena Andini tidak mau mereka tersesat dan menjadi musrik karena di dalam agama tidak boleh ya walaupun baru sedikit memasang sesajen. Karena guru ngaji Andini sering bilang tidak boleh musyrik atau bakar-bakar menyan. Jadi Andini tanamkan di hati Andini.”

“Ya sudah nanti juga mereka sadar akan perbuatannya. Oh ya kamu sekarang sudah dapat tidur kembali ya. Hati-hati dalam kehidupan ya nak!”.

“Iya kapan-kapan ketemu lagi ya nenek Naga”.

Dengan tersenyum naga itu pergi dan menghilang.


Andini merasa heran mengapa nenek Naga itu berbicara seakan-akan ia juga nenek Andini pikirnya.

Tiba-tiba hari sudah menjelang pagi Andini terbangun dari tidurnya. Terasa badan pada sakit semua karena habis berantem semalam. Andini hanya diam sejenak, semalam kayak ada yang mencekik saya. Terus ada yang menolongnya.


“Hm…hm.. naga emas yang besar dan anggun. Indah sekali bentuk dan gerakannya. Uar naga itu sangat kuat. Hanya sekali kibasan maka lawannya bisa lari tunggang-langgang”, gumam Andini dalam hati dan tertawa sendiri, geli lucu habis berantem dengan ular kobra jelek tadi malam. Kemudian Andini bangkit dari tempat tidur dan buru-buru mandi karena sudah kesiangan. Setelah itu sarapan dan berangkat sekolah menunggu mobil jemputan. Benar-benar Pengalaman yang tak terlupakan.


Saat kelas 4 SD, Andini sudah semakin kuat penglihatannya terhadap hal-hal gaib. Ketika sore hari menjelang magrib Andini melihat banyak sekali hantu-hantu terbang berbentuk bayangan. Ya bentuknya seperti tokoh kartun Casper! Hantu-hantu Casper putih adanya di pohon beringin. Hantu Casper adalah jelmaan roh gentayangan yang sudah lama atau tahunan bahkan ratusan tahun tidak kembali ke langit sisi Tuhan.


Hantu jenis Casper ini juga bukan hanya mampu membentuk bayangan utuh lengkap tetapi juga dapat mebentuk bayangan setengah badan atau hanya anggota tubuhnya saja. Suatu ketika Andini dan teman-teman kecil sepermainannya sholat di mesjid depan komplek. Setelah selesai sholat maghrib, Andini tiba-tiba dikejutkan tangan putih lewat depan matanya. Karenanya Andini kaget bukan kepalang, darimana datangnya bayangan tangan putih itu. Andini bertanya kepada teman-temannya apakah tadi melihat ada tangan di depan langkah mereka berjalan? lalu temannya bilang tidak.


Pada suatu malam Andini pernah melihat pocong yang ada di sudut rumah tua yang ditinggalkan penghuninya. Andini sangat takut dengan hantu pocong, karena itu ia berusaha menutup penglihatannya tentang hantu pocong. Oleh karenanya hantu pocong yang dilihatnya hanya sekali itu saja. Andini khawatir jika ada orang yang meninggal tidak wajar, maka kebanyakan mereka akan mampir dalam penglihatan di depan matanya.


Ketika Andini akan sholat magrib lagi di mesjid, teman-teman sepermainannya berhamburan menghampirinya yang lagi bengong di depan pagar pintu masuk masjid.

“Hai Din kenapa kamu ga masuk aja ke dalam. Kan kita udah janjian ketemu sholat magrib bareng. Ini lagi malah bengong?!”


Teman-teman lainnya malah menertawakannya sedangkan Andini sendiri buru-buru mengusap mukanya dengan mukena yang telah dipakainya.

Andini berusaha menyimpan kejadian yang baru saja dilihatnya karena tadi sebelum mereka datang, tiba-tiba di got ia melihat ada anak kecil sedang bermain. Makhluk itu pasti Tuyul! Andini bergumam dalam hati. Ternyata tuyul itu ukuran tubuhnya seperti anak manusia berumur 5 tahun bermain-main di got dengan menggunakan celana bayi berwarna merah dan hijau. Andini kaget dan tuyul itu kaget juga lalu lari terbirit-birit.


Sepulangnya dari shalat magrib dengan teman-temannya, Andini menemui neneknya di kamar sambil berbisik padanya, “anak setan kecil itu makhluk jenis apa lagi nek. Kasihan anak kecil sudah jadi tuyul.”

“Dini, kalo tuyul menurut nenek adalah siluman. Mereka itu kerjaannya suka mencuri uang. Pantas saja ibu-ibu di komplek sini meributkan kalau setiap uang Rp 5.000,- selalu hilang kalau di taruh di meja”, jawab nenek menimpali.


“Ah nenek bisa aja yang mencuri itu bukan tuyul tapi orang-orang di rumah. Tuyul kan tidak bisa memegang duit”, tegas Andini.

Kemudian nenek tertawa terpingkal-pingkal dan Andini pun begitu.

Esok harinya Andini berinisiatif menangkap tuyul sang pencuri!


Andini mendengar dari salah seorang anggota arisan bahwa disekitar Blok B ada yang piara tuyul. Pada saat ini uang harganya menurun atau terjadi ’Devaluasi’ di seluruh negara Indonesia. Mungkin karena kesulitan uang akhirnya mencari jalan pintas. Untuk menangkap tuyul itu Andini melakukan jebakan tuyul pada tengah malam kebetulan malam selasa. Andini mengambil tali rafia yang salah satu ujungnya diselotip menempel dengan uang lembaran Rp 10.000 di tengah meja rias. Ujung tali lainnya digunakan untuk mengikat toples kaca membentuk lingkaran dan diselotip kuat, sementara dasar toples diselotipkan bawang putih.


Ujung tali yang ada uangnya dibiarkan di tengah meja, sedangkan ujung tali lainnya ditumpukkan buku-buku sebagai penahan toples yang diletakkan menggantung secara terbalik. Ketika itu lampu kecil yang redup dinyalakan. Tepat jam 12 lebih 10 menit dini hari ternyata tuyul itu mendekati uang dan mulai menggeser. Andini dengan sigap mengendap-endap dibalik meja kaca rias menarik ujung tali uang ke pojok meja dan menurunkan toples. Dan.... Hap, tertangkaplah tuyul itu ke dalam toples. Tuyul menjadi mabuk karena bau bawang putih yang menyengatnya.


Serta-merta Andini mencaci, ”dasar tuyul brengsek suruhan siapa kamu?”.

Tuyul itu tidak mau mengatakannya.

”Ya sudah kalau tidak memberitahu, biar saja kamu disini”. Tuyul itu lantas berbicara, ”ampun putri, ampun saya tidak akan ambil-ambil uang lagi di rumah ini.

”Hei enak saja kamu panggil saya putri-putri. Memangnya saya putri kerajaanmu, sembarangan saja”.

Tiba-tiba tuyul itu terdiam dan bingung.

“Ya sudah saya mau tidur”, bentak Andini sambil meninggalkan tuyul yang meronta untuk dibebaskan.

Pada keesokan harinya Andini memberi toples berisi tuyul kepada ayahnya.

“Papa ini ada tuyul yang semalam ambil uang Dini. Sudah Dini tangkap da taruh di botol ini”.

Setelah diserahkan lalu dibawa sama ayahnya keluar rumah dengan naik mobil. Andini tidak tahu dibawa kemana toples itu. Dan setelah kejadian itu tidak pernah ada lagi kehilangan uang di rumah keluarga Andni.


Menemukan Anak Kecil di Balik Pohon

Usia terus berjalan kini memasuki usia 10 tahun dimana Andini sudah kelas 5 SD mendapat sekolah sore. Sehingga tidak bisa mengaji lagi. Jam pulang sekolahnya mendekati magrib, maka tak ayal jika penglihatan Andini terhadap hal-hal gaib semakin jelas. Ketika perjalanan pulang sekolah bersama teman-temannya, Andini selalu menoleh ke belakang suatu sudut gang yang berpohon besar.

“Teman-teman lain kali kalau pulang sekolah kita lewat jalan kantor Golkar aja ah jangan lewat dari sini”, seru Andini.

“Emang kenapa Din, kamu takut ada hantunya ya pohon itu”, sergah salah satu temannya.

He..he..he…………..

Dan mereka pun tertawa bersama.


Pohon besar itu memang dihuni siluman Gondowewe, yakni jenis Genderuwo yang perempuan. Gondowewe memiliki payudara yang besar sekali dan di perutnya terdapat kantong besar seperti binatang Kanggoro.

Kejadian heboh di komplek Slipi Blok A telah heboh karena ada seorang ibu kehilangan anaknya yang berumur 4 tahun, karena tidak pulang waktu lepas magrib. Andini bersama teman-temannya menyempatkan waktu menyambangi rumah ibu yang kehilangan anak. Andini berusaha menduga bahwa genderuwo di pohon itu yang membawa tersebut. Dan benar ternyata dugaan Andini bahwa anaknya bermain di bawah pohon besar waktu magrib. Berita orang hilang sudah disampaikan ke polisi, anak itu sambil di taruh diteteknya. Andini bercerita kepada ibu itu. Oh anak ibu dibawa sama getapi Andini yakin polisi tidak bakal menemukannya.


Diam-diam Andini mengatur janji dengan ibu itu ketemuan di dekat pohon besar ujung gang waktu lepas magrib. Setelah mendekati phon itu Andini dengan sigap berdiri berkacak pinggang menantang sang penghuni pohon. Sambil berteriak mencaci Gondowewe di pohon itu, Andini meminta anak perempuan kecil dikembalikan.

Anehnya tanpa perlawanan Genderuwo keluar dan terdengarlah suara anak kecil menangis. Dengan serta-merta Ibu yang kehilangan anak itu menghambur ke arah pohon besar dimana suara anak kecil menangis berasal. Ibu tersebut mendapati anaknya berpakaian lusuh dan sangat lemah. Terlihat Andini sedang berbicara sendiri di balik pohon. Orang lain tidak melihat wujud siluman selain Andini sendiri.


Setelah ibu dan anak beranjak, Andini menghampirinya dan ibu itu mengucapkan terima kasih. Andini meminta ibu itu merahasiakan kejadian tadi. Oleh karena masih keheranan dengan kemampuan Andini menudukan siluman Gondowewe yang sepertinya tidak masuk akal tetapi nyata itu, langsung mengangguk tanda setuju. Akhirnya mereka saling berpamitan dan Andini pun langsung menuju masjid untuk shalat Isya bersama teman-temannya.

Pada umur 11 tahun Andini naik kelas 6 SD. Kegiatan Andini di sekolah semakin padat, selain mengikuti kegiatan ektra kurikuler dan les ujian akhir juga banyak kegiatan studi lapangat. Pada tempat-tempat wisata yang dikunjungi untuk keperluan studi lapangan banyak pula hal-hal gaib yang terlihat, diantaranya di Taman Monas, Taman Ria, Ancol, Pantai Marina dan Taman Mini. Misalnya di Ancol ketika udara Jakarta sedang mendung dan waktu sudah melewati Ashar terlihat banyak orang dalam bentuk bayangan hilir mudik di kafe-kafe dan tepi pantai. Wajah mereka pucat dan kulit tubuhnya mengelupas. Andini yakin bahwa mereka golongan hantu gentayangan yang membangun komunitas di Ancol.


Pada pertengahan tahun di usianya ke-11 tepat pada bulan purnama, Andini kembali dijemput oleh para bidadari dan pengawal kerajaan Laut Selatan dengan menggunakan kereta kencana emas. Andini melihat pakaian pengiringnya yang berwarna-warni dan sedikit berbeda dari biasanya. Sesampainya mereka di istana, para pengiring berhenti di gapura pintu masuk keputren. Andini berdecak kagum dengan ruangan dalam keputren yang sangat luas, berbeda dengan kamar yang ia tempati sebelumnya.

“Nini, apakah ruangan ini buat Andini?”, sergah Andini dengan menatap lekat-lekat kepada bibi emban berkain putih bernama Nini Nilam.

“Oh iya benar nak, ini keputren yang baru untuk nak Andini tempati, karena sekarang sudah dewasa.”

“Lho yang memerintahkan kamarku dirubah ini siapa?”, Tanya Andini penuh harap.

“Tentu saja Ndoro Ratu Dewi Naga Selatan”, jawab Nini tegas.

Namun ketika Andini mendesak siapakah Ratu Dewi Naga Selatan dan apa hubungannya dengan dirinya sehingga pada waktu bulan purnama ia sering dibawa ke Istana Laut Selatan, sang bibi emban tidak memberikan jawaban selain hanya melemparkan senyuman.


Di dalam ruangan keputren Andini disuruh berendam dalam kolam air kembang warna-warni, kemudian didandani dengan pakaian putrid berwarna hijau dengan bertatahkan batu permata. Andini sangat senang mengenakannya. Andini terdiam dan melamun melihat kaca benggala, tiba-tiba ia dikejutkan oleh dua orang kembar pria tampan.


“Hai Andini kenalkan saya ini sepupumu, nama saya Pin dan Pan. Kami kembar.”

Andini Cuma diam dan kebingungan saudara yang tidak pernah dia tahu. Buru-buru Nini Nilam memberi tahu bahwa mereka benar-benar saudara Andini. Akan tetapi Andini ingin mengetahui secara pasti bagaimana hubungan saudara sepupu itu dengan Pin dan Pan serta ada hubungan apakah pesta meriah di istana ini dengan kehadiran mereka berdua. Kemudian Nini Nilam hanya mengelus rambut Andini dan mengatakan, ”Belum saatnya menceritakan pada mu karena kisahnya panjang”. Andini diam seribu bahasa dan hanya menatap lekat-lekat bayangan dirinya di kaca Benggala sembari masih tekun dirias oleh dayang-dayang bak seorang putri.


Setelah riasan Andini selesai, Pin dan Pan mengajaknya ke sebuah bale agung istana diiringi para dayang-dayang dan bibi emban. Di gerbang yang berpintu besar terlihat banyak pengawal istana yang gagah berdiri tegak menyandang senjata berbaris rapih sampai ke ujung singgasana. Ratu Dewi Naga Selatan menyambutnya dan menanyakan kabar Andini. Andini serasa tercekat untuk mengatakan apa pun, namun sang ratu hanya tersenyum dan mempersilahkan Andini ke suatu ruang permainan dan perpustakaan diiringi Pin dan Pan serta bibi emban. Ketika Andini dan saudara kembarnya di alam gaib

sedang asik bermain tiba-tiba gong berbunyi keras.

”Gong....gong.....”

Hanya dengan satu siulan saja para dayang-dayang menjemput Andini keluar bale agung dan bibi emban memberitahukan kalau Andini harus pulang karena di dunia luar akan terbit matahari. Sesampainya Andini di kembalikan ke kamarnya, ia terbangun dan melihat Nenek sedang membereskan lemari pakaian.

”Jam berapa ini nek”, tanya Andini seraya bangkit dari kasur membereskan selimutnya.

”Sekarang jam setengah lima pagi, ayo cepat mandi kan pagi ini harus pagi-pagi ke sekolah untuk ikut acara darmawisata”, pinta nenek tegas.


Kemudian Andini melakukan apa yang disuruh neneknya untuk mandi dan bersiap diri berangkat ke sekolah.

Kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler yang sangat padat di kelas 6 SD tidak membuat Andini patah semangat atau jatuh sakit, bahkan ia lebih banyak bergiat mengikuti les tambahan. Ketika masa ujian diumumkan, Andini serius belajar. Aktivitas bermain dihentikan sama sekali.


Waktu ujian tiba Andini mengikuti ujian-ujian dengan seksama tidak ada pikiran-pikiran lain selain ujian sekolahnya yang harus dia selesaikan. Setelah selesai ujian Andini menunggu selama 1 minggu untuk pengumuman kelulusan. Setelah ditunggu-tunggu akhirnya daftar siswa yang lulus di sekolah ditampilkan di papan pengumuman. Dengan berharap-harap cemas Andini bersama teman-temannya melihat daftar nama dengan seksama. Dan nama Andini tercantum diantara siswa yang lulus walaupun nilainya sedang saja.


Setelah menyelesaikan studi di SD, akhirnya liburan sekolah. Satu setengah bulan libur Andini pergi ke Bandung ke tempat saudaranya. Andini disana jalan-jalan ke Lembang, Ciater, Tangkuban Parahu dan masih banyak lagi tempat wisata yang Andini datangi. Pada tempat-tempat itu Andini banyak melihat berbagai macam siluman berbentuk aneh-aneh, seperti berujud macan, monyet, ular, babi dan lain-lain. Pada mulanya Andini kaget karena baru tahu ada siluman berbentuk binatang berukuran besar tidak seperti aslinya, namun lama-lama menjadi biasa. Lagi pula siluman-siluman itu tidak menggangu Andini bahkan ia heran malah diberi hormat oleh para siluman yang lewat. Selain menikmati perjalanan wisata liburan, Andini juga berkenalan dengan teman-teman saudaranya.

Kini Andini sudah remaja usianya sudah 12 tahun, telah memasuki sekolah SMP Negeri di daerah kemanggisan. Andini berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, teman baru dan guru baru. Hal ini berbeda dengan keadaan Andini waktu SD yang masih ingin dimanja, sehingga setelah SMP ini Andini melakukan semuanya untuk keperluan sekolah secara mandiri.


Pada tahun pertama masuk SMP siswa baru masuk siang jam 12.30. Andini sudah terbiasa mengatur persiapan sekolah dan perbekalan makanan dan minuman seperti yang telah ia alami bersama neneknya pada saat SD waktu sekolah sore. Andini tidak suka jajan di sekolahan walaupun ia mendapat uang jajan paling besar rata-rata diantara teman-temannya. Andini pulang menjelang maghrib dan kebetulan jalan pintas yang ia lalui melewati sebuah Pura. Andini sekali-sekali berhenti karena melihat siluman berbentuk manusia yang berkeliaran diantaranya Kuntilanak dan Leak.


Daerah yang dilewati Andini dan teman-temannya memang sangat hening sepi ketika menjelang malam. Teman-teman sekolah SMP merasa heran mengapa Andini jalannya tidak dipercepat padahal mereka sudah merasa ketakutan apalagi sudah mulai gelap. Andini bingung mau menuruti teman-temannya jalan bergegas nanti bisa-bisa menbrak siluman yang sedang hadir mengadakan pasar di daerah itu. Tanpa Andini sadari akhirnya ia mampu lantang berbicara secara batin.


”Hai para siluman, mohon maaf kami mau numpang lewat di wilayah ini, mohon beri jalan agar kita tidak saling mengganggu.”

Dan anehnya semua siluman terperanjat dan memberi hormat kepada Andini serta masing-masing memberi jalan kepada para siswi SMP yang melewatinya. Seketika Andini merasa heran dengan kejadian itu kemudian ia bergegas lebih cepat jalannya dan tean-teman lainnya di belakang lari tunggang langgang mengikuti Andini yang berjalan sangat cepat. Kemudian mereka tertawa-terbahak-bahak sambil saling meledek karena ketakutan melewati daerah angker.


Mulai membaca Pikiran Orang Lain

Setahun masuk sekolah siang Andini mulai masuk pagi, kini andini sudah kelas 2 SMP dimana usianya sudah 13 tahun. Pada usia menjelang dewasa ini Andini sering mengalami hal-hal yang tidak bisa diduga sebelumnya. Andini semakin kuat getaran dan penglihatannya yakni bisa membaca pikiran orang (mind reader) dan melihat gambaran pada orang itu akan terjadi apa. Misalnya orang akan sakit, menjadi orang besar, akan mengalami kecelakaan dan lain-lain. Disitulah Andini mulai merasa stress. Karena Andini semakin jelas inilah sehingga Andini bingung sendiri karena terkadang tidak mampu untuk bicara kepada orang itu. Jikalau teman sendiri tidak apa-apa karena masih bisa diberi tahu secara baik-baik manakala temannya akan kena kecelakaan agar tidak kejadian di kemudian hari. Namun jika orang lain tidak lah mungkin.


Peristiwa ini Pernah kejadian terhadap teman sekolah Andini. Suatu kecelakaan motor yang dilihat Andini sehari sebelumnya, kemudian disampaikan kepada temannya siswa SMP. Temannya itu siswa yang terkenal suka balapan motor. Untungnya temannya mempercayai Andini karena memang teman bermain Andini kebanyakan para siswa. Pada hari esoknya temannya tidak membawa motor ke sekolah. Namun terjadi berita yang mengejutkan bahwa telah terjadi kecelakaan motor yang menimpa seorang pengendara lain di jalan yang biasa ditempuh temannya itu pada pukul setengah tujuh pagi.


Pada saat Andini di semester dua di kelas 2 SMP, terjadi peristiwa duka yang mendalam bagi keluarganya. Nenek buyut yaitu ibunya papi atau panggilan untuk kakek Andini dari pihak ibu Suharti masuk rumah sakit karena sudah kritis pada usia senja. Nenek buyut dirawat di Rumah Sakit Petamburan bagian ICU (Internal Care Unit) dan semua keluarga hadir menunggui.


Andini mengingat-ingat kejadian horor tengah malam 6 tahun yang lalu ketika ia dirawat di RS St. Carolus, ternyata kejadian juga di RS Petamburan terjadi kembali. Ketika Andini kebelet buang air kecil, ia minta dianter abangnya (kakak sepupu laki-laki) ke kamar mandi (toilet) yang kebetulan letaknya di blok belakang gedung rumah sakit. Waktu itu jam 2 dini hari.


Sesampainya mereka berdua di toilet, Andini meminta abangnya untuk berjaga di dekat toilet pria yang bersebelahan dengan toilet wanita. Begitu Andini masuk toilet, terlihat ada perempuan cantik berambut panjang dengan mukanya pucat. Ketika perempuan tinggi itu mau masuk toilet, Andini mempersilahkannya masuk terlebih dahulu. Tetapi perempuan itu menyuruh Andini yang perlu masuk terlebih dahulu. Berhubung memang ia kebelet maka Andini bergegas masuk.


Setelah keluar dari toilet, Andini masih melihat perempuan itu di depan pintu. Oleh karena tidak ada perkataan apapun maka Andini pamit kepada perempuan itu dan meninggalkannya. Terkejutnya Andini, ternyata Abangnya sudah tidak berada di toilet pria. Tiba-tiba mata Andini reflek melihat ke bawah gaun panjang perempuan di toilet wanita itu, ternyata perempuan itu tidak menapak kakinya ke tanah. Akhirnya Andini lari terbirit-birit meninggalkan toilet karena yakin benar perempuan tadi adalah hantu penunggu toilet.


Sesampainya Andini di kamar ICU, ia marah-marah kepada aabngnya karena ia ditinggal sendirian dan sambil menangis. Abangnya memberi jawaban bahwa ia melihat Andini lari dari toilet wanita dan ia mengejar mengikuti. Dan akhirnya mereka tidak jadi marahan karena jam 2 dini hari di toilet rumah sakit ini sering kejadian aneh.


Saat itu nenek buyut sudah tidak kuat lagi, dan semua berkumpul secara khidmat. Oksigen sudah dicabut, begitu pula infus. Nenek buyut telah memberi isyaratnya. Paramedik dan dokter keluar dan mempersilahkan keluarga masuk ke dalam. Pertama kali yang dipanggil adalah Andini. Selanjutnya nenek buyut memberikan beberapa wasiatnya. Semua tampak haru duka yang mendalam anak, cucu (ayah-ibu Andini dan saudaranya), serta cicit (Andini dan 2 adiknya). Nenek buyut meninggal pada usia 84 tahun. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir nenek buyut membaca shalawat dibimbing oleh adiknya papi (kakek).


Pada saat saat bulan purnama penuh. Andini dijemput kembali dengan para dayang-dayang dengan kereta kencana, namun ia dipersilahkan naik kuda terbang putih (Unicorn) yang dibimbing oleh seorang ksatria. Andini menduga keadaan yang sungguh berbeda ini tentu karena ia sudah mulai beranjak remaja. Sebelum berangkat Andini bertanya kepada Nini Nilam yang biasa menjemputnya apakah akan ada pesta meriah di istana Laut Selatan.


”Andini ikutlah sekarang dengan naik kuda terbang putih ini karena saya hanya diperintahkan oleh Ratu Dewi Naga Selatan untuk menjemputmu”, Nini Nilam membujuk Andini.

Pada awalnya Andini hanya diam termangu. Dan akhirnya Andini mau saja untuk naik kuda terbang putih itu.

Setelah sampai di istana Laut Selatan, Andini mencoba mengorek keterangan kepada Nini Nilam ada hubungan apakah dirinya dengan Ratu Dewi Naga Selatan sehingga Andini sering diajak berkunjung ke negeri kerajaan di bawah laut itu. Namun lagi-lagi Nini Nilam menolak memberikan keterangan yang diminta Andini tadi dengan alasan hal itu masih rahasia.


Selama perjalanan sebelum sampai istana, Andini merasa gundah dengan berbagai pertanyaan mengapa dirinya selalu diajak ke acara pesta kerajaan dan setiap tahun ketika bulan purnama penuh. Banyak perubahan yang ia alami di kerjaan Laut Selatan sekarang yang mempunyai pintu berlapis-lapis ketika memasukinya. Setiap pintu ada yang menjaga dengan berbagai makhluk aneh berpakaian kesatria.


Didekat kaputren lalu Andini dibawa ke kamar dan digantikan bajunya, didandani dipakaikan semuanya dengan baju panjang mengkilat dilapisi emas. Sehingga Andini terlihat cantik sekali. Kemudian Andini setelah selesai didandani dibawa ke tempat bale pertemuan dimana semua anggota kerajaan sudah pada berkumpul. Lalu Andini disuruh dayang-dayang menghampiri nenek Dewi Naga Selatan. Dengan senyum yang khas dan keramahannya. Nenek memanggil Andini.


”kemarilah, duduklah disini”.

Dengan tenang Andini menghampiri nenek Ratu.

”Bagaimana kabarmu Andini?”.

”Ya Andini baik”.

Dengan hati berdebar Andini memberanikan diri bertanya kepada nenek Dewi Naga Selatan. ”Kapan saya bisa mendapat jawaban mengenai asal usul saya sebenarnya nenek Ratu?”

Nenek Ratu menjawab, ”kalau Andini sudah jauh lebih dewasa”. Dengan hati bimbang dan bingung akhirnya Andini hanya diam dan melihat orang-orang disekitarnya.

Andini bertanya lagi, ”boleh saya main dengan mereka nek?” Dijawab oleh nenek Ratu, ”boleh silahkan”.

Baru saja sebentar berkenalan dengan anggota kerajaan yang masih anak-anak yang juga ada Pan Pin, tiba-tiba dayang-dayang memanggil Andini untuk pulang kerumah. Karena besoknya Andini sekolah. Didalam hati Andini bertanya-tanya siapakah saya? Kenapa setiap bulan purnama dan selalu usia ganjil dijemput terus? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Setelah kembali Andini tidak mau mengingat-ingat lagi. Karena baginya itu hanyalah sebuah mimpi atau mungkin hayalannya saja


Aktivitas Ekstrakurikuler, Berbicara dengan Hantu Beralamat Rumah dan Liburan Ke Bali

Andini ketika kelas 2 SMP di suruh ikut untuk pembukaan PON yang ke IX di Jakarta tepatnya Gedung olah raga Senayan (Gelora Senayan). Andini mendapat tempat pada barisan dengan nomor atraksi gerakan pencak silat. Peserta persembahan pembukaan diikuti oleh seluruh sekolah dari berbagai sekolah di Jakarta dengan nomor regu berbeda-beda. Tiga bulan Andini latihan di senayan untuk mengikuti persiapan pembukaan PON Ixbersama beberapa teman-temanya.


Suatu ketika di Gelora Senayan ada salah satu sudut, dimana Andini melihat sekelebat perempuan lewat di ujung lorong. Andini memanggil tetapi wanita itu diam saja. Lalu menghilang. Andini merinding. Tidak sengaja Andini bertanya kepada salah satu penjaga di senayan perihal itu. Dan memang dulu ada yang meninggal akibat jatuh dari tribun atas kata penjaga itu, sejurus keudian Andini buru-buru pergi karena dipanggil rekan-rekannya.


Disekolah, Andini boleh memilih berbagai cabang olah raga yakni renang, lempar cakram, lempar lembing, sepedadan lari marathon. Andini memilih nomor renang. Ketika berenang sore hari di Senayan, Andini melihat sesosok perempuan berambut panjang sedang menangis. Ketika Andini mendekatinya perempuan itu menghindar. Andini bertanya, ”kamu siapa? Jangan takut karena saya mau menolong mbak ini”.

Pada saat itu Andini bersama dengan teman-teman. Ditanya oleh teman-temannya, ”kamu berbicara dengan siapa ni?”


Andini menjawab bahwa sedang berbicara dengan seorang perempuan di ujung tepi kolam. Ada disana, masa kamu tidak lihat”.

”Tidak ada siapa-siapa yang kami lihat”.

Lalu Andini diam. ”Oh ya udah deh kalian pergi aja duluan. Nanti aku susul ya”.

Setelah temannya pergi Andini bertanya lagi kepada perempuan itu yang ia yakini hantu penunggu kolamm. Perempuan itu menjawab bahwa dia mati dibunuh dan jasadnya dikubur di dekat sini. Tetapi orang tuanya tidak tahu.

”Dimana alamat rumahmu”, sergah Andini.

Dan setelah diberi tahu aamat rumahnya dan namanya. Andini mencatat di notes kecil dan disimpan kembali ke dalam tas pinggir kolam. Kemudian Andini menyusul teman-teman yag sudah berenang dan berain ditengah kolam. Setelah satu jam berenang Andini buru-buru mandi bersama teman-temannya.


Andini serta merta menarik lengan salah satu sahabatnya ketika mereka akan berangkat pulang ke rumah.

”An tadi aku berbicara sama orang yang sudah meninggal, dan dia minta tolong supaya kasih tahu kepada keluarganya”.

”kamu udah gila kali ya mana mungkin dia minta tolong kamu sementara dia udah meninggal”.

”Eh An masak sih kamu sudah lupa ya aku ini kan bisa melihat dan berdialog dengan makhluk halus”, sergah Andini mantap.


Akhirnya dengan perasaan penasaran, Andini dan sahabatnya Ane mencoba mencari alamat yang diberikan padanya. Setelah satu jam mencari akhirnya ketemu juga. Andini dan Ane tentu saja tidak percaya dan hanya bingung saling memandag saja. Setelah sampai mereka mengetuk pintu. Tidak lama kemudian ibunya keluar, dengan muka yang agak sedih ibunya bertanya, ”ada masalah apa datang kemari nak?”

”eng anu kami mau bertanya apakah ibu sedang kedukaan?”

Ibu itu terperanjat alang kepalang. ”dari mana anak tau kami berduka?”.

”itu bu...eh anu kami mau mengatakan bahwa anak ibu bernama Olga meninggal dibunuh orang ada di daerah Senayan”.


Betapa kagetnya ibunya Olga dan menangis menjerit tidak menyangka bahwa anaknya sudah meninggal. Padahal mereka sekeluarga hanya berharap anak hilang bisa ditemukan hidup yaitu Olga.

”Bagaimana caranya anak semua bisa memberi tahu ke alamat ini”, tanya ibu itu terbata-bata.

” ini ibu teman saya namanya Andini bisa melihat dan bisa bicara batin dengan anak ibu”, Ane menjelaskannya.

Setelah selesai semuanya Andini dan sahabatnya Ane pamit pulang. Sepanjang jalan mereka terharu seperti tidak percaya apa yang telah Andini lakukan semua itu.


Ketika liburan sekolah Andini dan keluarga liburan ke Bali dengan carter bis 2 hari perjalanan ke Bali. Sampai di Bali Andini menginap di Sanur dekat pantai. Dimana ada suatu kejadian aneh. Ketika sampai di hotel Sanur, Andini bersama nenek, sepupu, dan kedua adiknya di kamar atas, sedangkan mama dan papa di kamar bawah. Diseberangnya ketika Andini mau ke kamar ibunya sambil memakan es krim tiba-tiba sekelebat tangan putih lewat di hadapannya sehingga esnya mental ke atas lalu terjatuh berserakan. Lalu Andini berlari buru-buru ke kamar ibunya dengan mengetok pintu keras-keras.


Tak lama kemudian pintu teruka. Buru-buru ia menggapai selimut dan menutupi seluruh kepalanya. Karena dengan ketakutan yang amat sangat. Setelah tenang, ayahnya membujuk Andini agar jangan takut. Andini kemudian diantarkan pindah kamar kembali di atas. Andini tidak bisa tidur karena masih terbayang gambaran tangan lewat di depannya. Ketika ayah pergi baru bisa tertidur setelah ditemani beberapa saat.


Andini merasa bahwa hawa dan aroma di Bali begitu menyeramkan. Banyak sekali makuk yang berkeliaran di pantai ketika menjelang magrib seperti leak, monyet jadi-jadian, ular, anjing, dan lain-lain. Keesokan paginya Andini dan keluarganya mendatangi ke tempat acara pentas budaya seperti pertunjukan barongsai dan dewi durga. Selama 2 jam acaranya.


Setelah selesai lalu mereka ke Kintamani daerah Trunyan. Objek yang dikunjungi adalah Pure Besakih, Istana Presiden Tampak Siring, ke Sangeh. Disana banyak sekali monyet-monyet nakal yang berlarian dan menggapai-gapai makanan dari para pengunjung. Ketika ada salah satu nenek kami yaitu ibu dari om saya keluar dari bis diambil kaca matanya oleh salah satu monyet dan mengambil Koran orang lain lalu dipakainya kacamataa itu diatas pohon.


Lalu kami mendatangi pawang monyet untuk minta tolong mengambilkan kacamata yang dipakai monyet itu. Pawang itu mengatakan agar ibu membawa kacang atau kue dan persembahan (sesajen) lainnya. Anggota keluarga lainnya buru-buru menyediakan sesaji yang diminta lalu diserahkan. Kemudian pawang mendekati monyet itu dan sambil berbicara. Tidak berapa lama monyet itu mengerti. Setelah dikembalikan baru diambilnya berbagai sesaji itu untuk dibagikan kepada monyet-monyet lainnya. Ketika keluarga Andini masuk ke dalam arena pertunjukan sirkus, Andini tidak mau masuk dan hanya menunggu diluar saja. Andini jalan-jalan melihat baju-baju yang dipajang ditempat jualan. Beberapa baju ada yang cocok lalu Andini membelinya dan membeli juga tasnya bermotif flora fauna bergaya lukisan artistik.


Setelah lihat-lihat monyet di Sangeh lalu Andini sekeluarga ke Tanah Lot (sebuah tebing curam di atasnya Pure), untuk melihat matahari terbenam. Ditempat ini ketika Sun Set terlihat berbagai jenis binatang-binatang keluar dari tebing-tebing untuk melata mencari makan di tepian karang berdebur ombak. Ular-ular kecil, keong, siput karang, kepiting, dan tikus air mencari jalan.


Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam Andini sekeluarga pindah lokasi mencari makan di restoran Muslim yang ada di Kota Denpasar yang sangat ramai di dalam gemerlapnya malam. Karena sudah larut malam bercengkerama di restoran, Andini sekeluarga pulang ke hotel dan karena sudah lelah juga. Setelah sampai di hotel langsung tertidur karena besok akan ada kegiatan ke pantai Kute dan berfoto-foto keluarga dengan pakaian Bali.


Esok harinya pukul 9 pagi, Andini dan saudara-saudara main dipantai sambil berenang, dan main gundukan pasir. Setelah 1 jam di pantai Kute. Seluruh keluarga berganti baju dan bersiap-siap pergi lagi ke tempat lain. Studio foto yang ada di salh satu sudut kota untuk berfoto dengan pakaian Bali. Setelah selesai berfoto-foto kemudian mencari makan direstoran Muslim.


Tidak terasa telah 4 hari kegiatan di Bali ditambah perjalan pergi pulang, praktis menghabiskan satu minggu. Andini dan keluarganya kembali ke Jakarta dengan suka cita. Bagi Andini liburan ke Bali adalah pengalaman yang menyenangkan dan juga menyeramkan karena selama di Bali sering diperlihatkan penampakan yang sangat menakutkan.


Pertemuan Terakhir Dengan Dewi Naga Selatan

Setelah liburan berakhir Andini kembali ke bangku sekolah kelas 3 SMP, dimana usianya sudah 14 tahun dan semakin dewasa atau menginjak masa remaja. Andini sudah tenta mulai serius belajar. Walaupun terkadang masih suka bolos-bolos belajar bersama temannya nongkrong di kantin, apalagi pelajaran yang tidak dia sukai.

Kegiatan kurikuler di kelas 3 SMP ini mulai ada pekerjaan membuat paper pribadi dan kelompok. Studi lapangannya antara lain pergi ke museum-museum sejarah di Jakarta, perpustakaan nasional, untuk tambahan nilai nanti diakhir semesteran. Tidak sampai satu tahun Andini harus mengikuti ujian. Ujian akhir yang dikuti adalah semua mata pelajaran, termasuk humaniora musik, dan olahraga.


Untuk menghadapi ujian agama harus bisa membaca Al Qur’an. Andini belajar otodidak kepada salah satu saudaranya untuk mengajarinya mengaji. Selama 2 bulan lamanya. Latihan renang dilakukan untuk ujian pilihan olah raga. Andini dan Ane kerap bertemu untuk latihan renang di Senayan setiap minggu pagi. Untuk menghadapi ujian fisika dan kimia, Andini membuka pintu rumahnya lebar-lebar dengan menyediakan aneka makanan dan minuman agar teman-temannya yang pandai mau bertandang dan belajar bersama memecahkan soal-soal sulit.


Waktunya tiba ujian akhir, perasaan takut dan berdebar-debar. Hal ini karena menentukan lulus atau tidaknya jika salah satu mata pelajaran nilainya jatuh. 2 minggu lamanya Andini mengikuti ujian yang melelahkan. Setelah satu minggu kemudian hasilnya diumumkan di papan pengumuman. Pada daftar itu ternyata ada nama Andini. Tentu saja Andini senang akhirnya lulus ujian juga akhirnya. Teman-temannya gembira semua pada tanda tangan dibaju, dirok dan bahkan disemprot dengan pilok warna-warni baik di baju seragam maupun rambut.


Liburan kenaikan tingkat sekolah dari menengah pertama ke menengah atas selama dua bulan. Namun Andini tidak dapat bersantai-santai dimana harus mencari sekolah swasta, karena Andini tidak diterima di SMA Negeri. Akhirnya pilihan Andini jatuh ke SMA Sumbangsih Jakarta.


Oleh karena masih ada waktu liburan sedikit Andini diajak keluarganya ke Jawa jalan-jalan ke Jogyakarta untuk mengunjungi Borobudur, Prambanan, melihat-lihat keindahan alam. Candi-candi yang megah disana dahulunya dibangun pada zaman Dinasti Sailendra. Disana Andini melihat relief di batu-batu yang bercerita tentang Ramayana, Shinta, Rahwana dan para dewa dewi seperti Dewa Wisnu, Dewa shiwa dan Dewa Brahma, dewi Kunti dan lain lain.


Setelah melihat-lihat sampai ke atas Candi Borobudur di stupa Budha katanya akan berhasil cita-citanya jika tangannya mampu menggapai sang Budha yang bersemedi di tengah stupa. Dan Andini pun mencobanya walaupin hanya tergapai wajah sang Budha dengan telunjuk tangan Andini yang lentik. Setelah menghabiskan waktu kunjungan di berbagai candi, maka sekeluarga berangkat ke Solo. Di Solo Andini mampir ke pasar klewer membeli pernak pernik dan berbagai tas dompet. Andini dan Keluarga juga tidak lupa mapir ke Keraton Jogya melihat-lihat lingkungan istana da sejarahnya disana. Selama 2 minggu liburan, akhirnya Andini dan keluarga kembali ke Jakarta, karena akan masuk sekolah.


Usia sudah memasuki 15 tahun ketika duduk di kelas 1 SMA. Setelah 2 tahun berselang berbagai aktivitas hidupnya bersama keluarga yang cukup padat, Andini tidak mengingat bulan purnama kejadian dijemputnya ke istana bawah laut. Tepat pada bulan purnama tengah tahun pada usianya 15 tahun yang sudah remaja, Andini akhirnya dikagetkan lagi seperti yang sudah-sudah yakni 2 tahun lalu ketika di umur 12 tahun didatangi kembali oleh dayang-dayang cantik dan pengawal-pengawal tampan. Kali ini mereka tidak membawa kereta kencana, melainkan terbang melesat meniti pelangi dengan membawa selendang hijau.


Tanpa banyak bertanya kepada para dayang-dayang dan pengawal, Andini mengikuti mereka keluar dari jendela meniti awan dalam sekejap mata (secepat kilat) Andini sudah sampai di dalam istana bawah laut. Andini dibawa ketempat bale keputren untuk didandani dan diganti baju seperti biasa dengan pakaian yang mewah. Andini bak putri di negeri dongeng dihantarkan ke bale agung istana. Dalam batinnya Andini merasa kejadian yang berulang seperti ini adalah suatu keanehan, bahkan ia bertanya dalam hati apakah ini mimpi atau kenyataan. Dibilang mimpi juga tidak karena seperti nyata dimana Andini merasakan terpaan angin, berganti pakaian, terbang mengangkasa, dan menabrak debur ombak.


Ketika sedang berpikir dalam hati, tiba-tiba Andini dikagetkan oleh salah satu dayang untuk mengatakan bahwa Andini agar bersegera karena acara akan segera dimulai. Andini dibawa ke tempat bale pertemuan seperti biasanya. Dimana terdapat meja panjang dengan aneka hidangan istimewa. Semua tamu berpakaian mewah, namun kebanyakan dari mereka berujud binatang, hanyalah anggota kerajaan Laut Selatan yang berujud manusia. Pin Pan dan anak-anak kerajaan Laut Selatan yang lainnya menarik lengan Andini untuk duduk manis di dekat meja mereka bersiap menyantap makanan.


Sang Ratu yakni Dewi Naga selatan di depan podium menyampaikan kata pembuka dan mempersilahkan hadirin makan minum. Pin Pan dan anak-anak lainsigap menyantap makanan di depannya, sedangkan Andini tidak berbuat apapun hanya meraih air minum putih (bening). Anak-anak lain meminum minuman berwarna merah favorit mereka. Nenek Ratu dari depan podium hanya tersenyum melihat Andini dan memanggilnya.


Ketika anak-anak lain sibuk makan makan, Andini dipersilahkan dayang Nilam untuk menemui nenek Ratu di Bale Agung Istana. Andini dengan tenang tanpa banyak bicara mengikuti sang Ratu. Di dalam Bale Agun ada pendopo dengan singgasana emas berderet bangku kecil untuk duduk-duduknya anggota istana yakni para anak-anak. Andini kemudian duduk di salah satu banku dan dengan sopan memberi hormat.


Tidak banyak dialog diantara Andini dan Sang Ratu. Hanya Ratu berpesan agar Andini menjaga diri dengan baik, karena di tahun-tahun mendatang ia tidak akan dijemput lagi. Andini harus menghadapi segala konsekwensi kehidupan sebagai manusia seutuhnya. Kalimat terakhir mengingatkan Andini pada mata pelajaran Moral Pancasila yakni sebutan Manusia Seutuhnya. Apakah ia merasa sekarang manusia tapi belum menjadi manusia seutuhnya? Dan jangan-jangan Andini berpikir mungkinkah ia juga bagian dari negeri dongeng ini


Andini tidak banya bertanya apapun dan hanya mendengarkan. Bahkan Sang Ratu berpesan bahwa keberadaan siapakah diri Andini nanti bisa diketahui setelah ia bertemu dengan jodoh yang dijanjikan. Andini kembali bertanya dalam hati apakah jodoh yang dijanjikan itu? Semakin ia tak mengerti.


Dalam dialog selanjutnya sang Ratu bertanya akan keterampilan Andini serta kegiatan sekolahnya. Andini berterus terang bahwa ia tidak pandai berhitung atau matematika, yang Andini bisa hanya membuat cerita (mengarang) dan pelajaran sejarah serta kesusasteraan. Kemudian nenek Ratu tersenyum sambil mengatakan bahwa bakatnya memang sudah seperti itu.


Andini dinasehati agar banyak bersabar saja. Didunia ini harus dijalani lika-liku suatu kehidupan karena disitulah sumber kekuatan dalam diri kita. Untuk mencari suatu pengalaman yang sebenarnya. Andini harus tegar, sabar dan jangan lupa berdoa kepada Tuhan. Jadi hidup harus waspada dan hati-hati. Tidak semua orang bisa kita andalkan. Andini harus bisa mandiri jangan terlalu banyak minta tolong sama orang lain. Tetapi bukannya kita tidak butuh teman tapi kalau kita bisa kita yang memberi sesuatu buat orang lain. Itu lebih berarti dalam kehidupan sendiri. Tanpa disadariya Andini berkata dalam batin bahwa apa yang dikatakan Sag Ratu di negeri dongeng ini sama dengan nenek Andini yang dirumah sering berbicara seperti itu.


Adakah hubungan antara nenek di rumah dengan nenek ratu dinegeri dongeng ini?

Tak terasa waktu terus berlalu, suasana di kerajaan Laut Selatan mulai terlihat mega merona merah tanda bahwa Andini harus dikembalikan ke alam tidurnya. Dengan satu tepukan sang Ratu Andini telah berada di tempat tidurnya dan terbangun dengan pakaian tidurnya sediakala. Sekarang pukul setengah lima pagi.

Andini kemudian menggeser selimutnya dan duduk mengingati petuah sang Ratu tadi malam. Benarkah ia tidak akan pernah lagi dijemput ketika bulan purnama penuh setiap tengah tahun? Entahlah, Andini tidak memikirkannya lagi.


Setelah satu tahun belajar akhirnya Andini naik kelas 2 SMA dan akan diadakan penjurusan memilih IPA atau IPS. Tetapi Andini memilih IPS karena Andini tidak suka IPA, banyak hitungannya. Jadi memilih ilmu bahasa dan susastera saja. Betapa terkenangnya ia bahwa memang itulah bakatnya. It Is a Givt!

Itulah yang diingatnya dari dialog terakhir dengan sang Ratu Naga Selatan.


Tidak ada komentar: